Showing posts with label Nursing Science. Show all posts
Showing posts with label Nursing Science. Show all posts

Friday, February 14, 2014

MANAJEMEN STRATEGIS

author : Inggriane  P. Dewi


DEFINISI

Manajemen strategis dapat didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan dalam merumuskan, mengimplementasikan serta mengevaluasi keputusan-keputusan lintas-fungsional yang memampukan sebuah organisasi mencapai tujuannya. Manajemen strategis adalah proses penetapan tujuan organisasi, pengembangan kebijakan dan perencanaan untuk mencapai sasaran tersebut, serta mengalokasikan sumber daya untuk menerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi. Manajemen strategis mengkombinasikan aktivitas-aktivitas dari berbagai bagian fungsional suatu bisnis untuk mencapai tujuan organisasi.

TAHAP-TAHAP MANAJEMEN STRATEGIS
 Proses manajeen strategi terdiri atas tiga tahap :
a.      Perumusan Strategi
Mencakup penentuan bisnis apa yang akan dimasuki, bisnis apa yang tidak akan dijalankan, bagaimana mengalokasikan sumber daya, perlukan ekspansi atau diversifikasi operasi dilakukan, perlukan perusahaan terjun ke pasar internasional, perlukan merger atau penggabungan usaha dibuat dan bagaimana menghindari pengambilalihan yang merugikan.
Perumusan strategi terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1)     Pengembangan Visi Misi
Pernyataan visi
Visi adalah cara pandang jauh ke depan kemana organisasi harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan oleh organisasi.
Pernyataan misi
Misi merupakan pernyataan yang menetapkan tujuan organisasi dan sasaran yang ingin dicapai. Pernyataan misi membawa organisasi kepada suatu fokus. Misi menjelaskan mengapa organisasi itu ada, apa yang dilakukannya, dan bagaimana melakukannya.
Misi adalah sesuatu yang harus dilaksanakan oleh organisasi agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Dengan pernyataan misi tersebut, diharapkan seluruh pegawai dan pihak yang berkepentingan dapat mengenal organisasi dan mengetahui peran dan program-programnya serta hasil yang akan diperoleh dimasa mendatang.
2)     Identifikasi peluang dan ancaman eksternal
Peluang dan ancaman eksternal menunjuk pada berbagai tren dan kejadian ekonomi, social, budaya demografis, lingkungan hidup, politik, hokum, pemerintahan, teknologi dan kompetitif yang dapat secara signifikan menguntungkan atau merugikan suatu organisasi di masa yang akan datang. Sebagian besar peluang dan ancaman berada di luar kendali suatu organisasi.
Salah satu aspek utama dari manajeman strategis adalah bahwa perusahaan perlu merumuskan berbagai strategi untuk mengambil keuntungan dari peluang eksternal dan menghindari atau meminimalkan dampak ancaman eksternal. Karena alasan ini, identifikasi, pengawasan dan evaluasi peluang dan ancaman eksternal sangat penting bagi keberhasilan. Proses riset dan pengumpulan serta asimilasi informasi eksternal ini kadang diistilahkan sebagai pemindaian lingkungan. Melobi adalah sebuah aktivitas yang dipakai untuk memengaruhi peluang dan ancaman eksternal tersebut.
3)     Kesadaran akan kekuatan dan kelemahan internal
Kekuatan dan kelemahan internal merupakan aktivitas terkontrol suatu organisasi yang mampu dijalankan dengan sangat baik atau buruk. Mereka muncul dalam manajemen, pemasaran, keuangan/akuntansi, produksi/operasi, penelitian dan pengembangan dan aktivitas system informasi manajemen suatu bisnis. Mengidentifikasi serta mengevaluasi kekuatan dan kelemahan organisasi dalam wilayah fungsional merupakan sebuah aktivitas manajemen strategi yang esensial. Organisasi berjuang untuk menjalankan strategi yang mampu menggandakan kekeuatan internal sekaligus meniadakan kelemahan internal.
4)     Penetapan tujuan jangka panjang dan tujuan tahunan
Tujuan jangka panjang adalah hasil-hasil spesifik yang ingin diraih oleh suatu organisasi terkait dengan misi dasarnya dalam waktu lebih dari satu tahun. Tujuan sangat penting bagi keberhasilan organisasi sebab ia menyatakan arah, membantu dalam evaluasi, menciptakan sinergi, menjelaskan prioritas, memfokuskan koordinasi dan menyediakan landasan bagi aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian serta pengontrolan. Tujuan sebaiknya menantang, terukur, konsisten, masuk akal serta jelas. Tujuan harus ditetapkan untuk keseluruhan perusahaan dan tiap-tiap divisi.
Tujuan tahunan adalah tonggak jangka pendek yang mesti dicapai organisasi untuk meraih tujuan jangka panjangnya. Seperti tujuan jangka panjang, tujuan tahunan mesti terukur, kuantitatif, menantang, realistis, konsisten dan terproiritas.
5)     Pencarian strategi-strategi alternative dan Pemilihan strategi tertentu untuk mencapai tujuan
Strategi adalah sarana bersama dengan tujuan jangka panjangyang hendak dicapai. Strategi adalah aksi potensial yang membutuhkan keputusan manajemen puncak dan sumber daya perusahaan dalam jumlah besar. Selain itu strategi memengaruhi perkembangan jangka panjang untuk lima tahun ke depan dan karenanya berorientasi ke masa yang akan datang. Strategi mempunyai konsekuensi multifungsional atau multidivisional serta perlu mempertimbangakan, baik factor eksternal maupun internal.
6)     Kebijakan
Adalah sarana yang dengannya tujuan tahunan akan dicapai. Kebijakan meliputi pedoman, aturan dan prosedur yang ditetapkan untuk mendukung upaya pencapaian tujuan tersurat. Kebijakan adalah panduan untuk mengambil keputusan dan menangani situasi-situasi yang repetitive atau berulang-ulang. Kebijakan dapat ditetapkan di tingkat  korporat dan berlaku untuk keseluruhan organisasi, ditingkat divisional dan berlaku untuk satu divisi tersebut, atau di tingkat fungsional dan berlaku untuk aktivitas atau departemen operasional tertentu. Seperti halnya tujuan tahunan, kebijakan sangat penting bagi penerapan atau implementasi strategi sebab mereka menjabarkan pengharapan organisasi pada karyawan dan manajernya. Kebijakan memungkinkan konsistensi dan koordinasi di dalam dan antar departemen organisasional.
b.      Penerapan Strategi
Mengharuskan perusahaan untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan dan mengalokasikan sumber daya, sehingga strategi-strategi yang telah dirumuskan dapat dijalankan. Penerapan strategi mencakup pengembangan budaya yang suportif pada strategi, penciptaan struktur organisasional yang efektif, pengerahan ulang upaya-upaya pemasaran, penyiapan anggaran, pengembangan serta pemanfaatan system informasi dan pengintaian kompensasi karyawan dengan kinerja organisasi.
Penerapan strategi sering kali disebut “tahap aksi” dari manajemen strategis. Menerapkan strategi berarti memobilisasi karyawan dan manajer untuk melaksanakan strategi yang telah dirumuskan. Sering kali dianggap tahap yang paling sulit dalam manajemen strategi, penerapan strategi karena membutuhkan disiplin, komitmen dan pengorbanan personal. Penerapan strategi yang berhasil bergantung pada kemampuan manajer untuk memotivasi karyawan yang lebih merupakan seni daripada pengetahuan. Sehingga keterampilan interpersonal sangat penting bagi penerapan strategi yang berhasil.
c.       Penilaian Strategi
Adalah tahap akhir dari manajeman strategi. Manajer mesti tahu kapan ketika strategi tertentu tidak berjalan dengan baik. Penilaian atau evaluasi strategi merupakan cara utama untuk memperoleh informasi semacam ini. Semua strategi terbuka untuk dimodifikasi di masa yang akan datang karena berbagai factor eksternal dan internal terus menerus berubah. Tiga aktifitas penilaian strategi yang mendasar adalah :
1)     Peninjauan ulang factor-faktor eksternal dan internal yang menjadi landasan pada strategi saat ini
2)     Pengukuran kinerja
3)     Pengambilan langkah korektif
Penilaian strategi diperlukan karena apa yang berhasil saat ini tidak selalu berhasil nanti. Keberhasilan senantiasa menciptakan persoalan baru dan berbeda, organisasi yang mudah berpuas diri akan mengalami kegagalan.

BUDGETING
Manajemen Keuangan adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan. Manajemen keuangan berhubungan dengan 3 aktivitas, yaitu :
1. Aktivitas penggunaan dana yaitu aktivitas untuk menginvestasikan dana pada berbagai aktiva
2. Aktivitas perolehan dana yaitu aktivitas untuk mendapatkan sumber dana, baik dari sumber dana internal maupun sumber dana eksternal perusahaan
3. Aktivitas pengelolaan aktiva yaitu setelah dana diperoleh dan dialokasikan dalam bentuk aktiva harus dikelola seefisien.

sumber :
Marquis, B. L., & Huston, C. J. (2003). Kepemimpinan dan manajemen keperawatan :Teori dan aplikasi (Widyawati, Trans. 4 th ed.). Jakarta: EGC.
Resnick, B., & Mitty, E. (2009). Assisted living nursing: A manual for management and practice. New York: Springer Publishing Company.
Swansburg, & Swansburg. (1999). Indroductory management and leadership for nurses (2nd ed.). Toronto: Jones and Bartlet.

Sunday, February 02, 2014


PERITONITIS

a.  Definisi
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, suatu membran yang melapisi rongga abdomen. Peritonitis biasanya terjadi akibat masuknya bakteri dari saluran cerna atau organ-organ abdomen ke dalam ruang peritoneum melalui perforasi usus atau rupturnya suatu organ. (Buku Saku Patofisiologi, hal 528 )
b.      Etiologi
1)      Peritonitis Primer
a)      Nefrotik Sindrom
b)      Sirosis Hepatis
2)      Peritonitis Sekunder
a)      Ruptur atau perforasi saluran cerna
b)      Terdapat infeksi intra peritoneal
3)      Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneum.
c.       Patofisiologi
Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen kedalam rongga abdomen biasanya sebagai akibat dari inflamasi, infeksi, iskemia, trauma, atau perforasi tumor. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri sehingga terjadi proliferasi bakterial, terjadi edema jaringan, dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein, sel darah putih, debris seluler dan darah. Respon segera dari saluran usus adalah hipermotilitas, diikuti oleh ileus paralitik, disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus.


d.      Klasifikasi
Menurut penyebabnya, peritonitis dibagi :
1)        Peritonitis Primer
Terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritoneum serta bisanya terjadi pada anak-anak dengan riwayat sindrom nefrotik dan sirosis hepatis. Kuman masuk kerongga peritoneum melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui alat genital.
2)      Peritonitis Sekunder
Terjadi bila bakteri masuk ke rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak dan bisanya dari lumen saluran cerna. Dalam keadaan normal peritoneum dapat mengatasi masuknya bakteri melalui saluran getah bening diafragma. Akan tetapi, bila banyak bakteri yang masuk atau secara terus-menerus dapat menyebabkkan peritonitis, apalagi bila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambung, makanan, tinja, hemoglobin dan jaringan nekrotik atau immunitas pasien menurun, biasanya terdapat campuran jenis bakteri yang menyebabkan peritonitis, sering bakteri-bakteri aerob atau anaerob.
3)      Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneum
a)    Kateter pentrikuloperitoneal
Yang digunakan untuk mengurangi cairan serebrospinalis pada klien dengan hidrochepalus, sehingga apabila cairan serebrospinalis mengandung bakteri maka dapat menyebabkan peritonitis.
b)      Kateter peritoneo-jugular
Dipasang untuk mengurangi asites. Daerah yang terpasang kateter ini sering mengalami infeksi yang disebabkan oleh stapillococcus aureus
c)      Continuous ambulatory peritonial dialysis
Infeksi disebabkan karena kontaminasi cairan dialysis atau kateter, infeksi ini biasanya disebabkan oleh stapillococcus aureus dan kadang-kadang juga disebabkan oleh bakteri gram negatif, bakteri anaerob atau jamur.
e.       Manifestasi Klinis
Gejala tergantung pada lokasi dan luas inflamasi. Manifestasi klinis awal dari peritonitis adalah gejala dari gangguan yang menyebabkaan kondisi ini. Pada awalnya nyeri menyebar dan sangat terasa. Nyeri cenderung menjadi konstan, terlokalisasi, leih terasa di dekat sisi inflamasi dan biasanya diperberat oleh gerakan. Biasanya terjadi mual dan muntah serta penurunan peristaltik. Suhu dan frekuensi nadi meningkat dan hampir selalu terdapat peningkatan jumlah leukosit. (Brunner & Suddarth, hal 1103-1104).
f.       Komplikasi
Seringkali inflmasi tidak lokal dan seluruh rongga abdomen terkena pada sepsis umum. Sepsis adalah penyebab umum dari kematian pada peritonitis. Syok dapat diakibatkan dari septikemia atau hipovolemia. Proses inflamasi dapat menyebabkan obstruksi usus, yang terutama berhubungan dengan terjadinya perlekatan usus. Dua kompokasi pascaoperatif paling umum adalah eviserasi luka dan pembentukan abses. (Brunner & Suddarth, hal 1104).
g.      Diagnosis
Leukosit akan meningkat. Hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah. Elektrolit serum dapat menunjukan perubahan kadar kalium, natrium dan klorida. Sinar X dada dapat menunjukan udara dan kadar cairan serta lengkung usus yang terdistensi. Pemindaian CT abdomen dapat menunjukan pembentukan abses. Aspirasi peritoneal dan pemeriksaan kultur serta sensivitas cairan teraspirasi dapat menunjukan infksi dan mengidentifikasi organisme penyebab.
h.      Penatalaksanaan
1)        Peritonitis primer
a)      Antibiotik
b)      Pembedahan
2)      Peritonitis sekunder
a)      Transfusi darah (plasma atau whole blood dan albumin)
b)      Cairan parenteral (RL, Dextrose 5% atau NaCl 0,9%)
c)      Kortikosteroid, misalnya : metil prednisone 30 mg/ kg bb/ hari (apabila terdapat renjatan)
d)     Pemasangan pipa nasogastrik tube untuk dekompresi
e)      Pemberian analgetik dan sedatif
f)       Pembedahan
g)      Antibiotic intra perineal (missal 100 cc – 200 cc Canamisin 0,5 %)
3)      Peritonitis karena pemasangan benda asing kedalam rongga peritoneum
a)      Pemberian antibiotic spectrum luas
b)      Pencabutan atau reposisi kateter

Saturday, December 19, 2009

TRANSCULTURAL NURSING (3)




CONCEPT OF CULTURE


Culture is learned by each generation through both formal and informal life experiences. Language is primary through means of transmitting culture

The practices of particular culture often arise because of the group's social and physical environment

Culture practice and beliefs are adapted over time but they mainly remain constant as long as they satisfy needs.

Cultural awareness

It is an in-depth self-examination of one's own background, recognizing biases and prejudices and assumptions about other people

TRANSCULTURAL NURSING (2)

TRADITIONAL CONCEPTS OF HEALTH AND DISEASE


When viewed across a variety of multicultural groups, explanations for health and disease that characterized, many traditional beliefs about disease causation, treatment, and general health practices can be seen as highly complex, dynamic, and interactive. These explanations often involve family, community, and/or supernatural agents in cause and effect, placation, and treatment rituals to prevent, control, or cure illness. A failure to understand and appreciate these "differences" can have serious implications for the success of any Health Promotion and Disease Prevention (HPDP) effort.

Be aware that the health concepts held by many cultural, groups may result in people choosing not to seek Western medical treatment procedures because they do not view the illness or disease as coming from within themselves

Be aware that in many Eastern cultures and other cultures in the developing world, the locus of control for disease causality often is centered outside the individual, whereas in Western cultures, the locus of control tends to be more internally oriented (Dim-out, 1995).

Remember that if the more traditional person does seek Western medical treatment, then that person might not be able to provide or describe his or her symptoms in precise terms that the Western medical practitioner can readily treat (Landline & Logoff, 1992).

Recognize that individuals from other cultures might not follow through with health-promoting or treatment recommendations because they perceive the medical or other health- promoting encounter as a negative or perhaps even hostile experience.

Acknowledge that many individual patients and health care practitioners have specific notions about health and disease causality and treatment called explanatory models. These models are generally a conglomeration of the respective cultural and social training, beliefs, and values; the personal beliefs, values, and behaviors-, and the understanding of biomedical concepts that each group holds (Klein man, 1980).

Recognize that the more disparate the differences are between the biomedical model and the lay/popular explanatory models, the greater the potential for, on to encounter resistance to Western HPDP programs.

Be aware of the need to be flexible in the design of programs, policies, and services to meet the needs and concerns of the culturally diverse population, groups that are likely to be encountered.

Traditional Concepts of Illness Causality


Be aware that folk illnesses are generally learned syndromes that individuals from particular cultural groups claim to have and from which their culture defines the etiology, behaviors, diagnostic procedures, prevention methods, and traditional healing or curing practices.


Remember that most cases of lay illness have multiple causalities and may require several different approaches to diagnosis, treatment, and cure including folk and Western medical interventions

Recognize that folk illnesses, which are perceived to arise from a variety of causes, often require the services of a folk healer who may be a local corianders, shaman, native healer, spiritualist, root doctor, or other specialized healer.

Recognize that the use of traditional or alternate models of health care delivery is widely varied and may come into conflict with Western models of health care practice.

Understanding these differences may help us to be more sensitive to the special beliefs and practices of multicultural target groups when planning a program. Culture guides behavior into acceptable ways for the people in a specific group as such culture originates and develops within the social structure through inter personal interactions.

TRANSCULTURAL NURSING (1)

INTRODUCTION

Transcultural nursing with established clinical approached to clients with varying cultures are relatively new. According to Madeleine Leininger (1987) founder of the filed of transcultural nursing in the mid 1960s. The education of nursing students in this field is only now beginning to yield significant results.

Today nurses with a deeper appreciation of human life and values are developing cultural sensitivity for appropriate individualized clinical approaches.

Religious and Cultural knowledge is an important ingredient in health care. If the client do not respond as nurse expects the nurse may interpret it as unconcern or resistance the nurse then can be anxious and frustrated in order to incorporate cultural knowledge in care cultural knowledge in care.

It is important to understand some definition and cultural components that are important in health care.

For a nurse to successfully provide care for a client of a different cultural or ethnic to background, effective intercultural communication must take place. Intercultural communication occurs when each person attempts to understand the other’s point of view from his or her own cultural frame of reference. Effective intercultural communication is facilitated by the nurse identification of areas of commonalities. After reaching a cultural. understanding, the nurse must consider cultural factor throughout the nursing process.

Major Nursing organizations have emphasized in the last decade the importance of considering culture factors when delivering nursing care.

According to the American Nurses’ s Association (1976)”Consideration of individual value systems and lifestyles should be included in the planning and health care for each client Nursing curriculum recognize the contribution nursing to the health care needs of a diverse and multi cultural society life-style may ret1ect cultural heritage.
Culture-Broadly defines set of values, beliefs and traditions, that are held by a specific group of people and handed down from generation to generation. Culture is also beliefs, habits, likes, dislikes, customs and rituals learn from one’s family. (Specter 1991)
Culture is the learned, shared and transmitted values, beliefs, norms and life way practices of a particular group that guide thinking, decisions, and actions in patterned ways.
Religion:Is a set of belief in a divine or super human power (or powers) to be obeyed and worshipped as the creator and ruler of the universe? Ethical values and religion system of beliefs and practices, difference within the culture and across culture are founEthnic: refers to a group of people who share a common and distinctive culture and who are members of a specific group.
Ethnicity :a consciousness of belonging to a group.
Cultural Identify: the sense of being part of an ethnic group or culture
Culture-universals: commonalities of values, norms of behavior, and life patterns that are similar among different cultures.
Culture-specifies ; values, beliefs, and patterns of behavior that tend to be unique to a designate culture.
Material culture; refers to objects (dress, art, religious arti1acts)
Non-material culture; refers to beliefs customs, languages, social institutions. Subculture: -composed of people who have a distinct identity but are related to a larger cultural group.
Bicultural : a person who crosses two cultures, lifestyles, and sets of values.
Diversity: refers to the fact or state of being different. Diversity can occur between cultures and within a cultural group.
Acculturation; individuals who have taken on, usually observable, features of another culture. People of a minority group tend to assume the attitudes, values, beliefs, find practices of the dominant society resulting in a blended cultural pattern.
Cultural shock:-the state of being disoriented or unable to respond to a different cultural environment because of its sudden strangeness, unfamiliarity, and incompatibility to the stranger's perceptions and expectations at is differentiated from others by symbolic markers (cultures, biology, territory, religion).
Ethnic groups; share a common social and cultural heritage that is passed on to successive generations.,
Ethnic identity;- refers to a subjective perspective of the person's heritage and to a sense of belonging to a group that is distinguishable from other groups.
Race: the classification of people according to shared biologic characteristics, genetic markers, or features. Not all people of the same race have the same culture.

Thursday, December 17, 2009

Asuhan keperawatan pada kebutuhan rasa nyaman : stabilitas suhu tubuh

SUHU TUBUH :
Adalah keseimbangan antara panas yang diproduksi tubuh dengan panas yang hilang dari tubuh

ADA 2 JENIS SUHU TUBUH :
a. Suhu inti : suhu jaringan tubuh bagian dalam, misal cranium, thorax, rongga perut, rongga pelvis
b. Suhu Permukaan : suhu pada kulit, jaringan sub kutan, meningkat atau menurun sesuai dengan suhu lingkungan.
PRODUKSI PANAS
1. Basal Metabolisme rate
2. Aktivitas otot
3. Menggigil
4. Hormon thyroid : Thyroxine dan thriodothyronine berefek meningkatkan BMR dengan menaikan pemecahan glukosa dan lemak
5. Stimulasi sistem saraf sympathic oleh zat kimia, nor epinephrin dan epinephrin
6. demam

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUHU TUBUH
1. Umur
Neonatus : suhu antara 35,5 C – 37,5 C
Orang tua temperaturnya lebih rendah dari orang dewasa
2. Latihan
3. Hormon
4. Stress, dapat meningkatkan suhu tubuh
5. lingkungan
6. makanan / minuman
7. waktu
8. penyakit

KEHILANGAN PANAS
1. Radiasi (60 %) : pemindahan panas dari permukaan suatu objek ke permukaan lain tanpa ada kontak (melalui gelombang elektromagnetik)
2. Konveksi (2 %) : Adalah penyebaran panas karena pergeseran antara daerah – daerah yang kepadatannya tidak sama ( melalui hantaran udara)
misalnya : tubuh pada udara yang dingin atau panas hilang karena di ruang ber-AC , atau memakai kipas angin.
3. Evaporasi ( 25 % ) : penguapan
4. Konduksi (3 %) : adalah pemindahan panas kepada objek lain dengan kontak langsung tanpa gerakan yang jelas.
Misal : berbaring dilantai yang dingin, kompres dingin.

PERUBAHAN – PERUBAHAN SUHU TUBUH
1. Hyperpirexia : suhu tubuh naik, demam tinggi biasanya diatas 41C
2. Febris intermitten : demam selang – seling
3. Febris remitten : demam turun naik
4. febris continua : demam terus – menerus
5. hypothermia : cuhu tubuh turun ( dibawah normal), kematian terjadi jika suhu dibawah 34 C.
PENGATURAN SUHU TUBUH
Diatur oleh :
1. Mekanisme Fisiologis
Neural kontrol, lokasi di hypothalamus (diantara hemisphere otak) area pre optik disebut thermostat
Hypothalamus anterior untuk mengontrol kehilangan panas
Hypothalamus posterior mengontrol konservasi panas
Mekanisme kehilangan panas :
a. Berkeringat
b. Dilatasi pembuluh darah
c. Menghambat produksi panas
Bila hipothalamus merasakan temperatur tubuh menurun signal menyuruh untuk meningkatkan produksi panas dan konservasi yaitu dengan :
a. vasokontriksi
b. otot menggigil
c. bulu roma berdiri
Lesi atau trauma pada hipothalamus / spinal cord dapat menyebabkan perubahan serius
2. Mekanisme tingkah laku
Dingin  memakai baju tebal
Panas  mandi, kipas – kipas, pakai baju tipis dll.

TEMPAT – TEMPAT PENGUKURAN SUHU TUBUH

1. Oral ( 37  C)
Keuntungannya :
Mudah diambil dan di dapat
Kerugiannya :
a. Termometernya mudah pecah jika tergigit
b. Tidak boleh diberikan pada bayi atau anak di bawah umur 6 tahun
c. Klien yang bingung
d. Klien yang kejang
e. Tidak akurat jika klien sehabis makan / minum yang dingin atau panas
f. Kontra indikasi untuk yang bedah hidung atau bedah mulut.

2. Rectal (37, 5  C)
Keuntungannya :
Pengukurannya lebih dapat dipercaya
Kerugiannya :
a. Tidak menyenangkan klien
b. Akan melukai bila pada klien dengan bedah rectal
c. Kontra indikasi untuk klien dengan infark myocard  merangsang nervus vagus  denyut jantung turun
d. Feces akan mempengaruhi peletakan termometer

3. Axilla (36,7  C)
Keuntungan :
a. paling aman dan non invasif
b. pengukurannya lebih lama untuk mendapatkan hasil yang akurat


SUHU TUBUH NORMAL SESUAI TINGKAT USIA
 New born : 36.1 C – 37.7  C
 2 – 5 tahun : 37,2  C
 1 tahun : 37,7  C
 6 thn – dewasa : 37  C
 Usia lanjut : 36  C

PERUBAHAN SUHU TUBUH : HYPERTHERMIA

1. Fase Onset ( serangan)
a. DN meningkat
b. RR cepat dan dalam
c. Menggigil  terjadi ketegangan otot – otot skeletal dan terjadi kontraksi
d. Pucat, kulit terasa dingin karena terjadi vasokontriksi
e. Kuku cyanosis  vasokontriksi
f. Mengeluh merasa dingin
g. Bulu roma berdiri
h. Pengkentian keringat
i. Meningkatnya suhu tubuh

2. Fase Course ( demam)
a. Kulit terasa hangat
b. Perasaan kadang dingin kadang hangat
a. DN dan RR meningkat
b. Rasa haus meningkat
c. Dehidrasi ringan atau berat
d. Ada perasaan mengantuk, gelisah atau delirium atau kejang karena ada iritasi pada sel – sel saraf
e. Lesi pada mulut
f. Hilang nafsu makan
g. Lemah, sakit pada otot – otot karena katabolisme protein.

3. Fase Defervescence (pemulihan)
a. Kulit terlihat kemerahan dan terasa hangat
b. Berkeringat
c. Rasa menggigil mulai surut
d. Kemungkinan dehidrasi

PERUBAHAN SUHU TUBUH : HYPOTHERMIA

a. Temperatur dibawah normal (< 36 C )
b. Mengantuk  coma
c. Penyebabnya :
• Kehilangan panas yang berlebihan
• Tidak adekuatnya produksi panas untuk mengganti kehilangan panas
• Gangguan termoregulasi di hipothalamus

Tanda klinis hypothermia
• Penurunan suhu tubuh
• Menggigil berat
• Perasaan sangat dingin
• Pucat, dingin
• Hipotensi
• Penurunan urin output
• Koordinasi otot kurang
• Disorientasi
• Mengantuk  secara cepat bisa koma

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Potensial perubahan suhu tubuh s.d :
 Penyakit atau trauma yang mempengaruhi pengaturan suhu
 Obat – obat yang menyebabkan vasokontriksi, vasodilatasi, yang merubah status metabolisme atau penenang
 Tidak aktif atau aktivitas yang berlebihan

2. Perubahan suhu tubuh : Hypertermia b.d :
 Terpapar atau berlebihan dengan udara panas
 meningkatnya metabolisme rate akibat infeksi
 dehidrasi

3. Perubahan suhu tubuh : Hypothermia d.b ;
 Terpapar berlebihan dengan udara dingin
 Kelemahan karena penyakit atau trauma

4. Tidak efektifnya thermoregulasi b.d
 Penurunan BMR karena ketuaan
 trauma atau penyakit

5. Gangguan rasa nyaman : panas badan b.d peningkatan suhu tubuh

INTERVENSI KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DEMAM
1. Monitor TTV
2. Kaji warna kulit dan suhu
3. Monitor jumlah leukosit, Hematokrit dan nilai lab. Lainnya
4. Pindahkan selimut yang berlebihan jika klien kepanasan, atau tambah selimut jika klien kedinginan
5. Berikan makanan dan cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ml / hari ) untuk mencegah dehidrasi
6. ukur intake dan output
7. Berikan cairan intravena
8. Kurangi aktivitas fisik untuk membatasi produksi panas
9. Berikan antipiretik sesuai order
10. Berikan oral hygiene untuk menjaga kelembaban mulut
11. lap badan klien untuk meningkatkan kehilangan panas melalui konduksi
12. Berikan baju yang kering dan tipis
13. Gunakan kipas angin

Wednesday, November 04, 2009

MASALAH PADA BAYI BARU LAHIR

BAYI RESIKO TINGGI

• LAHIR SEBELUM MINGGU KE 37 ATAU SESUDAH MINGGU KE 42 KEHAMILAN
• BB LAHIR < 2500 GR ATAU > 4000 GR
• BB LAHIR TIDAK SESUAI USIA KEHAMILAN (SGA/LGA)
• LAHIR DENGAN KEADAAN BURUK (APGAR 1’ : 0-4) →PERLU CPR
• DILAHIRKAN OLEH IBU DENGAN PENYAKIT INFEKSI /PENYAKIT LAIN
• KPD
• MASALAH SOSIAL YANG BERAT (KEHAMILAN REMAJA,KECANDUAN OBAT, TIDAK ADA PASANGAN HIDUP)
• PRENATAL CARE (-) / TERLAMBAT
• PENINGKATAN BERAT BADAN MINIMAL
• MULTIPARA > 4, USIA > 35 TAHUN
• KEHAMILAN KEMBAR/HAMIL 3 BULAN PASCA PERSALINAN
• PERSALINAN DENGAN TINDAKAN/PENYULIT